Kecemerlangan Pendidikan Asas Pembangunan Negara


Ini adalah pertandingan pidato bahasa melayu yang diadakan oleh Malaysia. Pesertanya terbagi menjadi dua kategori. Kategori pertama, yaitu kategori nusantara, terdiri dari Malaysia, Indonesia, dan Brunei Darussalam. Dan kategori kedua, yaitu kategori antarabangsa, terdiri dari negara-negara lain yang tidak menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa pertama di negaranya.

Juara pada kategori antarabangsa adalah Kamboja. Sedangkan Ayleen, yang ada di video ini, mendapatkan juara kedua. Namun secara personal saya lebih menyukai pidato beliau dibanding pidato-pidato yang lain. Pidato ini selalu dapat mendongkrak semangat saya.

Dalam video ini anda mungkin akan menemukan bahwa Ayleen lebih bisa dianggap menggunakan bahasa Indonesia dibanding bahasa Melayu. Hal ini adalah karena di Australia bahasa Indonesia merupakan bahasa yang populer untuk dipelajari. Namun demikian beliau tetap dipersilahkan untuk mengikuti pertandingan ini, sama halnya dengan peserta dari Indonesia, karena dianggap ada kemiripan bahasa. Dapat kita lihat Ayleen mencoba untuk merubah beberapa kata yang dianggap tabu atau memiliki makna berbeda di Malaysia.

Berikut adalah isi pidatonya:

Yang Amat Berhormat Datuk Seri Najib Tun Razak, Timbalan Perdana Menteri Malaysia.

Dif Dif kehormat, Tuan Tuan, Puan Puan, dan saudara-saudari sekalian.

Saya ingin tahu. Kakak saya ingin tahu. Ibu saya ingin tahu.

Setiap abad, setiap tahun, setiap hari, setiap detik, manusia ingin tahu.

Sekarang penonton disini ingin tahu, “Orang ini bercakap apa ya?”

Ya.. penonton disini telah kena penasaran. Keingintahuan.

Seperti hari pertama masuk sekolah.

Apabila belajar alphabet: A-B-C. Belajar hitung: 1-2-3.

Tetapi selepas huruf C, kemudian huruf apa?

Dan selepas nomor 3, kemudian nomor berapa?

Saudara-saudari sekalian,

Saya berdiri didepan saudara-saudari, tidak untuk mengajar alphabet dan tidak untuk mengajar hitung.

Tetapi untuk membincangkan tajuk ‘Kecemerlangan Pendidikan Asas Pembangunan Negara’

Saya masih ingat hari pertama masuk sekolah, karena kebetulan saya kehujanan.

Saya naik motorcycle, sama mama, dari petani sampai kesekolah.

Dan begitu masuk gedung sekolah, guru melihat saya dengan semua pakaian basah.

Dan menjemput saya berulang alphabet.

Saya mulai: A.. B.. C.. tapi tiba-tiba saya lupa.

Dan saya bertanya kepada guru, “Selepas huruf C, kemudian huruf apa Bu?”

Jawabannya, “Tidak apa-apa. Yang penting otak anak ini sudah mulai berfikir dengan mandiri.”

Mengapa saya bercerita tentang hari  pertama masuk sekolah?

Karena bagi setiap orang yang masuk sekolah, di kota, desa, maupun daerah.

Angkatkan tangan dan bertanya kepada guru menjadi suatu kebiasaan.

Memegang buku dan pena menjadi suatu kebiasaan.

Pendidikan menjadi suatu kebiasaan.

Dan kebiasaan ini yang merupakan kecemerlangan pendidikan.

Dan kecemerlangan pendidikan yang menjadi asas pembangunan negara.

Sekarang sebagai orang dewasa, sebagai mahasiswi, saya ingin tahu.

Karena pembangunan negara tidak sesenang A-B-C, 1-2-3..

Dan pertanyaan saya adalah: Pembangunan negara itu apa sebenarnya?

Kita boleh melihat di peta negara saya, negara Australia.

Terletak diantara benua Asia dan Antartika.

Tetapi pembangunan negara Australia tidak berasas tanah.

Kita boleh melihat di kota Kuala Lumpur.

Ada gedung yang tinggi, ada jalanan, ada jambatan, ada sekolah, ada rumah sakit.

Tapi pembangunan negara Malaysia tidak berasas baja dan besi.

Semua ini hanya tanda-tanda dan simbol suatu negara.

Kerana manusia sendirilah yang harus dibangun terlebih dahulu sebelum pembangunan negara bisa terjadi.

Hari ini kita dapat melihat berbagai perkara dalam suatu negara.

Kita boleh melihat banyak perkara di berita, seperti krisis ekonomi global.

Dan sekarang kita harus mempertanyakan apa yang terjadi.

Karena pembangunan negara tidak sekedar mengeksploitasi sumber alamnya untuk menumbuhkembangkan ekonomi.

Dan pembangunan negara tidak sekedar membangun gedung yang paling tinggi di dunia untuk menunjukkan kekayaan negara sendiri.

Hanya lewat sistem pendidikan yang cemerlang dapat suatu negara berkembang seperti bunga tropis yang kehujanan setiap hari dan berwarna-warni secara wajar.

Tuan-Tuan dan Puan-Puan,

Saya berdiri di depan saudara-saudari sebagai dewasa, sebagai mahasiswi, sebagai orang yang mencari ilmu.

Sekarang saya masuk semester terakhir kuliah, dan setiap hari orang bertanya, “Selepas kuliah, U mau menjadi apa? Selepas kuliah U mau cari pekerjaan apa?”

Tetapi selama ini saya masih menjalani hidup menurut suatu peribahasa yang sebenarnya berasal dari Melayu, yaitu “Ilmu lebih berharga dari harta”.

Ingatlah pembangunan negara tidak sekedar mengejar harta.

Biarlah pendidikan menjadi suatu kebiasaan.

Dan biarlah kita kehujanan pengetahuan setiap hari.

Jangan berhenti kepada huruf C, dan jangan berhenti kepada nomor 3.

Karena kita sebagai manusia harus mempertanyakan dan harus terus berfikir dengan mandiri.

Terimakasih, selamat malam, dan selamat berpendidikan yang cemerlang, Malaysia.

Ayleen O’Hanlon
Australia
Kecemerlangan Pendidikan Asas Pembangunan Negara
Kategori: Antarabangsa
Pertandingan Pidato Antarabangsa Bahasa Melayu Piala Timbalan Perdana Menteri 2009

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s