Sahabat lama masa-masa labil

ilustrasi

ilustrasi

Ketika saya iseng membongkar-bongkar laci lemari di rumah, saya menemukan beberapa sisa kelabilan masa remaja (Ya, tentu saja saya pernah labil. Saya malah mungkin remaja paling labil pada masa itu :mrgreen: ) Diantaranya: foto-foto, surat-surat, dan beberapa diary.

Pada akhirnya saya memutuskan untuk membaca ulang diary-diary itu, mengembalikan diri saya ke masa lalu. Beberapa dari kejadian yang terekam di lembaran usang itu ternyata benar-benar sudah luntur dari ingatan saya. Tidak jarang saya sampai harus mengerutkan dahi, berfikir keras, kemudian bergumam, “Pernah, ya?”.

Untuk pertama kalinya dalam hidup saya harus mengakui bahwa kemampuan manusia sangatlah terbatas. Selama ini saya selalu membanggakan diri sebagai orang yang memiliki ingatan jangka panjang yang luar biasa detail. Tapi kemudian sekarang saya harus dihantam kenyataan bahwa terlalu banyak detail detail berharga yang tercecer dan terbengkalai begitu saja. Yang mungkin jika bukan karena adanya diary ini, tidak akan saya sentuh lagi sama sekali.

Seorang sahabat pernah berkata,

Sometimes when you’ve walked too far, you start realize that you’ve been missing a lot of thing on the way.

Kejadian ini kemudian mengingatkan saya pada salah satu film favorit saya, Mengejar Matahari. Salah satu tokoh di film itu, Apin (diperankan oleh Udjo) mempunyai hobi merekam kejadian sehari-hari dengan handycam. Karena dia percaya, hidup tidak akan bisa diulang.

Tiba-tiba saja saya merindukan diary.

Merindukan seluruh prosesnya secara utuh. Dimulai dari proses hunting yang biasanya menghabiskan waktu yang lama sekali. Setiap orang selalu menginginkan diary yang terbaik, padahal hei! Tidak akan ada orang yang melihat diary itu selain dirimu sendiri kan? Tapi mungkin justru disitu letak indahnya. Mencari yang terbaik untuk diri sendiri, supaya kita merasa nyaman dan semangat untuk menulis. Ahh. Sudah terlalu lama saya tidak melakukan sesuatu yang untuk diri sendiri.

Lalu saya merindukan hari-hari penuh penantian akan datangnya malam hari. Terutama kalau ada peristiwa penting yang terjadi pada hari itu, rasanya saya tidak akan bisa konsentasi pada apa-apa lagi selama sisa waktu selain memikirkan “bagaimana cara memulai menulisnya di diary nanti malam?” Ahh. Tapi kan diary itu milik pribadi? Kenapa harus pusing memikirkan bentuk penulisannya. Toh tidak masalah jika hanya kita yang paham isinya. Dan lagipun, ujung-ujungnya setiap cerita akan dimulai dengan kalimat pembuka paling membosankan (tapi tetap selalu dipakai) di seluruh dunia: “Dear Diary..”

Dan ketika menulis, seluruh bayangan tadi siang akan hilang begitu saja termakan emosi. Pada awal-awal menulis biasanya tulisan saya akan menjadi tidak jelas arah dan tujuan, antara satu paragraf dengan paragraf yang lain menjadi tidak sinkron. Untunglah kemudian ada pelajaran Bahasa Indonesia yang mengajarkan saya menulis berdasarkan kalimat utama. Hahaha. Tapi toh kadang-kadang saya tetap suka menulis sesuka hati. Peduli apa?

Dan terakhir saya merindukan membolak-balik halaman, menertawai tulisan sendiri tanpa beban. Kita tidak perlu takut menuliskan nama orang yang kita benci, perbuatan jahat yang telah kita lakukan, atau bahkan gebetan yang diam-diam kita taksir. Saya tidak perlu takut memikirkan reaksi sahabat saya ketika saya mengkritik potongan rambut barunya, misalnya, karena toh sampai kiamat pun dia tidak akan pernah tau. Mungkin benar kata pepatah, sesuatu yang tidak kita ketahui tidak akan menyakiti kita.

Blogging is awesome, yes it is.

But still, there are some points where I need my own space and my own privacy. Where I can say anything and be anything I want. Where I don’t need to care about what other people feel. Instead, the only thing I need to focus is my own feeling.

Oke. Sepertinya saya mulai meracau tidak jelas disini. Saya bahkan bingung harus memasukkan postingan ini dibawah kategori apa. Hmmm.

Hanya ada satu kalimat yang sedang berputar di kepala saya sekarang:

Should I start writing a diary again?

7 Responses to this post.

  1. wahh uut… permisi mw komen..
    ini diary di suatu masa itu kah? yg hrs dikerjakan walo kdg numpuk??
    huhu..
    aq msh nulis diary walo g tiap hari lagi dan lama2 mkn g penting cerita yg ditulis disana
    terakhir nulis tgl 120809 kemaren (br buka diary).. such a long time!! and i miss it a lot!!

    should i start writing a diary again?
    pertanyaan ini udah ada di kepala lama sekali
    i guess yes
    pikiran kita sama mulai dari 4 paragraf k bawah (bila bs disebut paragraf c)

    good news,, i’ll write diary tonight!! =))

    Reply

    • halo gea, makasih ya udah mampir :)
      sebenarnya dari dulu dulu dulu banget pun memang saya suka nulis diary kok. makanya diary ‘terpaksa’ itu juga ujung-ujungnya jadi ajang curhat saya ke Sir *baru sadar sekarang
      sepertinya saya akan hunting diary secepatnya.
      meluncuuur! :mrgreen: :mrgreen:

      Reply

  2. Posted by AbuBakar on September 27, 2009 at 8:15 PM

    hehehehhee…..
    why not sist….

    Reply

  3. Posted by Arina on October 18, 2009 at 8:27 PM

    Puut,Put, i have something special for your blog.
    if you have spare time, just Check it out @ http://matahariarina.wordpress.com/

    OK, galz.
    Cheers,
    Arina.

    Reply

  4. u can write anything in a personal blog. if u dont like ppl to make any comment, just use a certain tool to ignore comments. that’s simple. but u’d rather to manage 2 kinda blogs than one only. one is for public and another one is private.

    much better to use english cuz though google can help others to translate your words, not many will do it.
    well, i use my english blog to post personal stuffs.

    Reply

Respond to this post